Traveloka Sebagai Jawaban Kebutuhan Masyarakat Zaman Now

Sampai saat ini, globalisasi nampaknya sudah menjadi sebuah fenomena yang mendunia. Dalam segi etimologis, kata “globalisasi” berakar dari kata global. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan pengertian bahwa global adalah sebuah hal yang umum, keseluruhan, saling bersangkut paut dan meluas ke seluruh dunia[1]. Globalisasi juga bisa diartikan sebagai suatu proses menuju dunia global atau sebuah proses yang mendunia sehingga membuat dunia saling terintegrasi dan terkoneksi satu sama lain tanpa batas. Hal ini membuat globalisasi menjadi sebuah “gerakan” dengan dampak serta manfaat yang besar.

Roland Robertson[2] menyebutkan bahwa globalisasi hadir lewat proses yang disebut glokalisasi. Glokalisasi dimaknai sebagai adanya pola keterkaitan antara proses globalisasi dan lokalisasi sehingga dapat disimpulkan bahwa proses-proses global dipengaruhi oleh penerapan, tafsiran dan adaptasi yang bersifat lokal. Lebih lanjut, Robertson menjelaskan bahwa globalisasi memiliki dua sifat, yakni sifat penyempitan dan perluasan. Sifat penyempitan adalah dimana globalisasi membuat dunia semakin sempit secara insentif dan di satu sisi terjadi juga perluasan kesadaran manusia untuk meningkatkan koneksi yang bersifat global.

Berbagai media sosial hadir untuk mewadahi proses globalisasi yang berjalan itu. Sebut saja media sosial seperti Facebook, Youtube, Instagram, Google+ dan Line[3] sangat mewarnai linimasa globalisasi komunikasi dan teknologi karena sifatnya yang begitu universalis di Indonesia terutama pada kalangan kaum muda. Kehadiran berbagai media sosial telah membawa kepada perubahan ke arah penyertaan masyarakat yang lebih bersifat dalam jaringan (online).

Globalisasi dan Internet

Kehadiran dan kemajuan media sosial di Indonesia salah satunya terjadi karena proses globalisasi. Berbagai survey menyebutkan bahwa pengunaan internet di Indonesia telah mencapai angka 55 juta pada 2011 (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2011). Indonesia juga menduduki peringkat nomor empat sebagai pengguna Facebook terbesar di dunia (Socialbakers, 2012). Data statistik dari Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia[4] tahun 2016 menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia berdasarkan usia 10-34 tahun mencapai 42,8% dari seluruh jumlah pengguna internet. Artinya bahwa, kegiatan lalu lintas dalam jaring (daring) masih di dominasi oleh kelompok usia-usia muda.

Melalui survei yang dirilis oleh Asosiasi Jasa Internet Indonesia (APJII)[5] mengungkapkan bahwa ada 132,7 juta pengguna internet di Indoneisa. Meningkat tajam dari hasil survei pada tahun 2014 dimana pengguna internet di Indonesia hanya mencapai 88 juta pengguna. 132,7 juta pengguna masih didominasi oleh pekerja / wiraswasta (sebesar 82,2 juta) dan ibu rumah tangga sebesar 22 juta pengguna.

Berbagai survey itu kemudian dapat menimbulkan kekhawatiran Indonesia akan masuk ke dalam zaman technopoly. Technopoly[6] adalah istilah yang disebutkan oleh Neil Postman untuk menyebutkan suatu budaya dimana masyarakat mendewakan teknologi dan teknologi tersebut sebagai pengontrol semua aspek kehidupan. Masyarakat pada zaman technopoly juga akan menganggap teknologi sebagai sarana penciptaan rasa aman dan selamat sehingga, menurut Postman, tradisi, adat istiadat, politik, dan agama harus kehilangan esensinya karena telah digantikan oleh peran ketergantungan masyarakat akan media teknologi. Di sisi lain, hal ini justru menimbulkan dampak positif dimana internet memberikan berbagai macam kemudahan bagi masyarakat dan pembisnis dan merupakan media elektronik yang dapat membantu pengembangan e-commerce.

Traveloka dan Kebutuhan Masyarakat

Traveloka adalah perusahaan yang menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat, hotel, tiket aktivitas & rekreasi, tiket kereta api, pulsa pascabayar dan internet secara dalam jaringan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2012 oleh Ferry Unardi, Derianto Kusuma, dan Albert Zhang. Sebagai salah satu e-commerce yang paling besar di Indonesia, Traveloka tentunya terus berkembang menjadi sarana pemenuhan kebutuhan masyarakat zaman ini.

E-Commerce sendiri merupakan proses berbisnis dengan menggunakan teknologi elektronik yang dapat menghubungkan antara perusahaan, konsumen dan masyarakat dalam bentuk transaksi elektronik. Hal ini tentu dipandang lebih efektif dan responsif akan kebutuhan masyarakat zaman ini karena dari hasil survei diatas tadi, sebagian masyarakat di Indonesia sudah menggunakan smartphone yang dapat dengan mudah mengakses internet.

Traveloka: Layanan Isi Pulsa dan Paket Internet

Tuntutan globalisasi yang berdampak pada penggunaan smartphone dan internet yang semakin hari, semakin meningkat di Indonesia sehingga kebutuhan masyarakat akan pulsa dan paket internet juga pasti akan melambung tinggi. Maka dari itu, traveloka juga hadir dengan layanan isi pulsa dan paket internet.

Mungkin banyak dari pengguna internet yang masih merasa takut untuk melakukan transaksi dalam jaringan karena resiko yang harus ditanggung sangatlah tinggi. Adapun masalah lainnya mengapa banyak pengguna internet menghindarinya juga karena penipuan dengan cara pencurian identitas dan membohongi pelanggan dan hukum yang kurang berkembang dalam bidang e-commerce.

Disinilah kelebihan yang ditawarkan oleh Traveloka selaku penyedia layanan isi pulsa dan paket internet karena bertransaksi di Traveloka, pembeli tidak perlu khawatir dengan sistem keamanannya. Data pribadi pembeli tentunya akan tetap terjaga dan dijamin tak akan bocor ke pihak mana pun tanpa sepengetahuan pembeli. Hal ini karena Traveloka adalah sebuah perusahaan besar yang memiliki kredibilitas yang tinggi sehingga Traveloka menjamin pulsa dan paket internet diterima dalam waktu singkat setelah pembayaran selesai diverifikasi. Di satu sisi, pembeli juga dilindungi haknya oleh Undang-Undang Perlindungan konsumen (Consumer Protection Law) apabila terjadi kebocoran data pribadi pembeli akibat transaksi pembelian di Traveloka.

Kelebihan yang ditawarkan oleh Traveloka juga berbagai pembelian pulsa dan paket internet dengan mudah dapat dilakukan melalui smartphone. Konsumen tinggal hanya membuka aplikasi Traveloka, pilih kategori pulsa dan internet, masukkan nomor telepon yang dituju, pilih jumlah nominal pulsa ataupun jenis paket internet yang ingin dibeli, isi detail pemesanan kemudian melakukan pembayaran dengan banyak opsi pilihan, antara lain: transfer, pembayaran melalui ATM, kartu kredit, CIMB Clicks, Mandiri Clickplay, E-Cash, BCA Clickpay dan Mandiri Debit. Kemudahan ini tentunya dapat memudahkan pembeli untuk dapat membeli pulsa maupun paket internet dimanapun dan kapanpun. Kemudahan ini pun sekaligus menjawab berbagai keraguan pembeli yang tidak mau melakukan transaksi melalui internet banking. Dalam hal pembayaran paket pulsa dan internet ytang dibeli, Traveloka tentunya sudah bekerjasama dengan banyak bank ternama di Indonesia sehingga tak hanya keamanan konsumen dalam bertransaksi dapat terjaga, melainkan proses pembayaran yang harus dilakukan pembeli dapat dilakukan semakin mudah, nyaman dan aman.

Keunggulan lainnya adalah layanan isi pulsa dan paket internet mencakup semua provider unggulan di Indonesia sehingga pembeli tak perlu khawatir ketidaksediaan pulsa dan paket internet sesuai provider yang digunakan. daftar provider seluler yang tersedia di Traveloka App antara lain: Axis, Bolt, IM3 Ooredoo, Kartu As, Mentari Ooredoo, Simpati, Smartfren, TRI (3), XL. Keunggulan lainnya yang dapat dirasakan pembeli adalah aplikasi Traveloka bisa secara langsung mendeteksi provider yang pembeli gunakan dengan memasukkan nomor telepon yang dituju sehingga dapat meminimalisir terjadinya kesalahan yang dapat menyebabkan pulsa atau paket internet yang dibeli tidak sampai kepada konsumen.

Keunggulan lainnya dan yang seringkali menjadi hal utama yang diperhatikan oleh pembeli atau konsumen yakni mengenai harga. Harga yang ditawarkan oleh Traveloka untuk pembelian pulsa dan paket internet bisa dikategorikan lebih murah, bahkan harga jualnya dibawah jumlah nominal pulsa yang ditawarkan. Bukan cuma murah, Traveloka juga menampilkan harga yang jujur, artinya, Harga yang ditampilkan ke konsumen adalah harga yang sudah final, gratis biaya transaksi dan tanpa biaya tersembunyi yang dapat merugikan masyarakat.

Pada hakikatnya, kepuasan pelanggan selalu berkaitan dengan pelayanan yang diberikan. Dua hal yang menjadi sorotan yakni harapan pelanggan terhadap kualitas layanan (expected quality) dan penilaian konsumen terhadap kualitas layanan yang diberikan (perceived quality). Kepuasan pelanggan tersebut tentunya dapat dikategorikan sebagai ungkapan tentang persepsi dan harapan konsumen terhadap layanan suatu perusahaan. Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan, tentunya Traveloka terus berkembang memberikan yang terbaik bagi pembeli dan konsumennya dengan terus memperhatikan kualitas layanannya agar mendapat penilaian yang baik dari pengguna jasanya dan konsumen semakin terbantu dengan hadirnya Traveloka pada era global ini.

 

[1] https://kbbi.web.id/global

[2] Ibrahim, Idi Subandy, dkk. 2014. Komunikasi dan Komodifikasi: Mengkaji Media dan Budaya dalam Dinamika Globalisasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

[3] 5 Top Buzz Rankings Social Media di Indonesia tahun 2016 berdasar Brand Index (http://www.brandindex.com/ranking/indonesia/2016-annual/category/internet-social-media)

[4] https://statistik.kominfo.go.id/site/data?idtree=424&iddoc=1517

[5] https://apjii.or.id/content/read/39/264/Survei-Internet-APJII-2016

[6] Postman, Neil. 2011. Technopoly: The Surrender of Culture to Technology. New York: Vintage Books

Iklan

Orasi Graduation SMA Kolese Gonzaga Angkatan XXVIII

Orasi Graduation SMA Kolese Gonzaga Angkatan XXVIII*

Sabtu, 6 Mei 2017

“Ducere cum Ceteris Mittimur”

(Kami Diutus untuk Memimpin dalam Kebersamaan)

oleh:

Jacko Ryan

Yang saya hormati,

  1. Romo Drs. Emmanuel Baskoro Poedjinugroho, SJ., MA. (Delegatus Educationis Serikat Yesus Indonesia)
  2. Romo Dr. (cand.) Adrianus Andy Gunardi, SS., MA., CHT. (Rektor SMA Kolese Gonzaga)
  3. Romo Thomas Salimun Sarjumunarsa, SJ., MPS. (Pater Superior Komunitas SMA Kolese Gonzaga)
  4. Romo Leonardus Evert Bambang Winandoko, SJ., SS., M.Theo., M.Ed. (Direktur SMA Kolese Gonzaga)
  5. Romo Antonius Vico Christiawan, SJ., SS., M.Theo. (Pater Moderator SMA Kolese Gonzaga)
  6. serta frater, bruder, dan suster (menyesuaikan)
  7. Bapak / ibu guru SMA Kolese Gonzaga
  8. Para orang tua murid dan wali
  9. Serta para rekan komunitas SMA Kolese Gonzaga yang saya kasihi.

Selamat sore, (menyesuaikan)

Puji dan syukur kita haturkan ke hadirat-Nya, bahwa dalam kebersamaan ini, kita dapat hadir dengan perasaan sukacita untuk mengikuti acara wisuda angkatan 28 SMA Kolese Gonzaga. Perkenalkan, saya Jacko Ryan, kelas XII S1/19, mewakili para wisudawan/wisudawati dalam memberikan sambutan dan refleksi atas ‘perjalanan panjang’ yang sudah ditempuh di SMA Kolese Gonzaga tercinta ini.

Berubah, mungkinkah? ditengah kenyamanan dan kebersamaan kita yang begitu erat di Kolese Gonzaga ini, apakah memungkinkan kita untuk berubah dan meninggalkan tempat ini? ya, mungkin sulit. Kesulitan dan kegalauan yang sama juga yang digambarkan Ajip Rosidi dalam puisinya yang berjudul “Tiada yang Lebih Aman” yang tertulis demikian:

 

Tiada yang lebih aman,

pun tiada yang lebih nikmat

Membayangkan masa lampau

yang dalam kenangan terpahat.

pixiz-26-04-2017-15-17-20

Tiada yang lebih berat,

pun tiada yang lebih berarti

Dan saat kini

yang ‘kan seg’ra lepas pula jadi mimpi.

pixiz-26-04-2017-15-23-09

Tiada yang lebih gamang,

pun tiada yang lebih senang

Menghadapi masa datang,

yang ‘kan segera jadi sekarang.

pixiz-26-04-2017-15-27-50

Detik-detik berloncatan,

tak satu pun kembali terulang

Karena antara tadi dan nanti,

sekarang menghalang.

pixiz-26-04-2017-15-30-01

Para hadirin yang saya hormati dan para rekan yang saya kasihi,

Saya menyimpulkan, bahwa berubah (bahwa perubahan) adalah sikap hidup yang tak tertahankan. Bahkan Ayip Rosidi menggambarkan perubahan sebagai sesuatu yang tidak aman, tidak nikmat, sesuatu yang berat, yang gamang dan tidak menyenangkan. ‘berubah’ akan semakin berat dilakukan apabila itu berkaitan dengan zona nyaman yang kita rasakan dan kebersamaan yang  kita rajut selama ini.

Para hadirin yang saya hormati dan para rekan yang saya kasihi,

Tempat ini, hall ini, menjadi awal perjumpaan dan akhir perpisahan kita. Tempat ini yang menjadi saksi ketika kita mengawali arak-arakan kebersamaan ini dengan perang yel-yel saat MOPD. Dan ditempat ini juga, dalam kebersamaan, saat ini, kita siap untuk di wisuda dan diutus untuk pergi dari Kolese Gonzaga.

Para hadirin yang saya hormati dan para rekan yang saya kasihi,

Mengadaptasi perkataan dari St. Aloyius Gonzaga: “saya ibarat sepotong besi yang telah bengkok. Saya masuk Kolese Gonzaga agar diluruskan kembali”. Yang menarik, kata “bengkok” dalam bahasa aslinya, bahasa yunani yakni “anakupto” / bang back, sesuatu yang tekuk/bengkok, tekuk dan bengkokkan kembali supaya tegak. Pertanyaannya, “apakah kita sudah membungkukkan kembali, sudah membengkokkan kembali, sudah menekuk kembali, sudah meng-anakupto kembali diri kita, sehingga kita menjadi besi yang lurus dan tegak seperti apa yang dikatakan St. Aloysius Gonzaga?”

Seharusnya sudah. Kitalah besi-besi yang lurus dan siap digunakan orang banyak. Proses ‘pelurusan’ itu tentunya tidak akan berjalan apabila kebersaman kita, tidak didampingi oleh para bapak-ibu guru dan orang tua kita. Maka, dengan rasa syukur, saya, mewakili para rekan angkatan 28 SMA Kolese Gonzaga, mengucapkan besar terima kasih kepada bapak-ibu guru dan kepada orang tua atas pengorbanan tak henti, atas pengabdian tak ternilai, atas cinta dan doa yang terjalin terus. Sehingga kami, anak-anaknya, sudah menjadi “besi yang lurus” dan siap digunakan orang banyak.

 Para hadirin yang saya hormati dan para rekan yang saya kasihi,

Peristiwa saat ini menjadi akhir dari perjalanan panjang kita di Kolese Gonzaga, tapi, tentulah kita harus terus meyakini, bahwa, perjuangan ini belum selesai. Mari kita lanjutkan perjuangan ziarah beragam rasa ini dengan terus menghayati gema ikhtiar kebersamaan kita.

  LITANI

Arak-arakan kebersamaan ini

harus hidup dalam ketaatan

dengan penuh syukur.

pixiz-26-04-2017-16-50-10

Karena itulah alat pengukur,

Bahwa perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan

Bukan saja menuntut sejumlah ketaatan,

Tetapi terutama kemurnian tanggung jawab,

Disertai kejujuran dan rela berkorban

Dalam pengabdian.

pixiz-26-04-2017-16-55-54

Lihatlah ke depan!

Perjalanan kita bersama masih begitu panjang,

Banyak aral melintang

Menghadang bengis, menatap jalang.

Namun kita memiliki segenggam kepastian:

Allah berjalan bersama kita!pixiz-26-04-2017-16-45-26

(doxology, kemuliaan dan ucap syukur)

Terimakasih Tuhan,

Tangan welas asihMu

Terentang cemerlang!

pixiz-26-04-2017-17-01-22

Selamat berjuang,

dan kiranya Allah memberikan yang lebih baik,

Deus Meliora Det!

 

dari Sport and Multi Function Hall SMA Kolese Gonzaga.

6 Mei 2017

+ Jacko Ryan

 

*pidato disiapkan secara metode naskah dan dipraktikkan secara ekstemporan. Ada beberapa kalimat yang tidak disampaikan ataupun beberapa kalimat dan gurauan yang disampaikan secara impromtu. terjadi menyesuaikan situasi dan kondisi.

Universitas Airlangga Menuju Top 500 World Class University, Pergumulan dan Perjuangan!

Almamater adalah sebuah kata yang tidak asing bagi setiap mahasiswa. Mahasiswa kerap kali menggunakan ‘almamater’ untuk merujuk pada suatu perguruan tinggi dimana ia menimba ilmu. Almamater berasal dari bahasa latin, terdiri dari alma dan mater yang berarti ibu pengasuh atau ibu yang memberikan ilmu dan ada juga yang mengartikan almamater sebagai “ibu susuan” atau “Ibu yang menyusui”.

Gambar 1: Kisah Mitologi Romawi, “Romulus & Remus”. Seekor serigala yang menjadi ‘almamater’ bagi sang pendiri Kota Roma.

 

Ya, Universitas Airlangga adalah “ibu” yang senantiasa memberikan air kehidupan abadi (Amerta, ambrosia) sebagai sumber ilmu yang senantiasa kekal bagi setiap Ksatria Airlangga. Ia bagaikan seekor serigala yang senantiasa mengasuh dan menyusui Romulus dan Remus, hingga kelak keduanya menjadi pendiri kota Roma seperti dalam kisah mitologi Romawi, “Romulus dan Remus”. Ia juga bagaikan seorang ibu yang senantiasa menyusui (Breastfeeding) sehingga ada ikatan intim antara sang ibu dengan sang anak. Ikatan intim itu lebih diperkuat lagi dengan sebuah ikrar janji ketika kita memekikkan “Bagimu Almamater, kuberjanji setia” pada saat menyanyikan Hymne Airlangga. Dari pengertian etimologis, kita dapat melihat betapa intim dan pentingnya hubungan mahasiswa dengan almamaternya.

Gambar 2: Kampus C Universitas Airlangga

Melalui semboyannya Excellence with Morality, Universitas Airlangga terus berproses untuk melebarkan sayapnya. Menjelang usianya yang ke 63 tahun, Universitas Airlangga menduduki peringkat 701+ QS World University Rankings[1] dan terus berbenah diri untuk mencapai Top 500 World Class University pada tahun 2019. Dalam mencapai tujuannya tersebut, semua elemen dan seluruh sumber daya manusia (civitas academica, staf pendidik, alumni, pemerintah dan masyarakat luas) haruslah bersinergi.

Faktor pertama dan utama yang perlu diperhatikan terutama bagi civitas academica yakni perlunya perubahan paradigma berfikir. Pemahaman bahwa kampus hanyalah dijadikan sebagai tempat dan ajang perlombaan, dimana setiap mahasiswa bertarung untuk sebuah status ‘menang dan kalah’ dan pada akhirnya, para ‘pemenang’ lah yang yang berhak menggunakan toga, berbaris rapi untuk digeser tali toganya oleh rektor dan akhirnya tersemat gelar akademik dalam namanya. Jangan jadikan Universitas Airlangga sebagai arena pertandingan yang hanya menghasilkan “menang-kalah”, tetapi jadikanlah almamater ini sebagai wadah petualangan tak henti serta gudang pengalaman yang tak mungkin dapat ditemukan di tempat lain.

Kedua, ketika muncul paradigma bahwa Universitas Airlangga merupakan sebuah wadah petualangan tak henti dan gudang pengalaman, maka langkah selanjutnya yang dapat dilakukan adalah terus bergumul untuk terus mencari pengalaman baru dan berpetualang seluas mungkin dan berjuang akan hal itu. Contohnya adalah aktif dalam organisasi-organisasi, meningkatkan partisipasi di event dan konferensi akademik berstandar internasional, terus berpetualang menghasilkan berbagai publikasi dan penemuan ilmiah, student exchange dan banyak hal lainnya. Perjuangan semacam ini kiranya terus dilakukan agar mampu mendongkrak nilai Universitas Airlangga di kancah internasional sekaligus menjadi wadah petulangan dan gudang pengalaman bagi setiap mahasiswa yang berperan aktif mewujudkannya.

Ketiga, perlunya peran aktif dari kalangan akademisi dan staf akademik. Universitas Airlangga harus terus memberdayakan para akademisi dan staf akademik sehingga jumlah dosen dan hasil riset yang memperoleh pengakuan internasional terus meningkat. Hal-hal lain yang berkaitan dengan finansial juga diperlukan untuk menggerakkan penelitian, menambah jumlah dosen, serta menambah infrastruktur.

Keempat, alumni Universitas Airlangga merupakan salah satu sumber daya yang strategis. Ketika melihat banyaknya alumni Universitas Airlangga yang sudah berkiprah di kancah nasional maupun internasional dengan berbagai pengalamannya maka diperlukan juga peran aktif alumni dalam mewujudkan Universitas Airlangga sebagai Top 500 World Class University. Rektor Universitas Airlangga, Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, mengatakan bahwa masukan dari para alumni akan digunakan sebagai bahan pembuatan rencana strategis (renstra) bagi Universitas Airlangga kedepannya.

Kelima, perlunya intensifikasi dan ekstensifikasi baik secara intern maupun ekstern. intensifikasi internal bisa dilakukan dengan peningkatan akreditasi pada setiap program studi yang ada di Universitas Airlangga dan ekstensifikasi internal bisa dilakukan dengan cara perluasan infrastuktur dan fasilitas. Selanjutnya secara ekstern, Ekstensifikasi yang bisa dilakukan Universitas Airlangga yakni memperluas kerjasama (afiliasi) antar universitas ataupun institusi yang sudah bergerak di kancah internasional.

Pada akhirnya, pergumulan dan perjuangan kita bersama belumlah usai. Seorang Filsuf Yunani, Plato, mengatakan “Orang yang ingin bergembira harus menyukai kelelahan akibat pekerjaan”. Perlu dicatat bahwa peringkat bukanlah tujuan tunggal yang ingin diraih Universitas Airlangga, peringkat adalah hasil dan dampak positif dari setiap perbaikan mutu yang dilakukan dan perjalanan Universitas Airlangga menuju excellence with morality. Mari kita memberikan yang terbaik untuk “ibu pengasuh” kita dengan bersama-sama berubah, menyalaraskan visi dan akhirnya bergerak serta mewujudkannya bersama-sama!

Ad Maiorem Dei Gloriam!

[1] https://www.topuniversities.com/universities/airlangga-university

De Imitatione Christi, Mengikut Teladan Kristus (Karya: Thomas A Kempis)

10. GODAAN-GODAAN

            Selama kita hidup di atas dunia ini, kita akan diganggu oleh pencobaan-pencobaan dan godaan-godaan. Oleh karena itu tiap orang harus waspada, berjaga dan berdoa, sehingga setan tidak mendapat kesempatan untuk memperdayakannya. Setan itu tidak pernah beristirahat, melainkan berkeliling bagaikan singa yang mengaum-ngaum dan mencari mangsa untuk ditelannya.

            Tak ada seorang yang demikian sempurna dan kudus, sehingga ia tidak diganggu oleh godaan-godaan, sebab kita semua tidak luput daripadanya. Namun betapa pun beratnya bagi kita, godaan-godaan itu dapat memberikan manfaat kepada kita. Semua orang beriman telah menempuh banyak pencobaan dan godaan, namun olehnya secara rohani mereka telah mengalami perkembangan.

            Pangkal segala godaan terdapat dalam batin kita yang goyah dan di mana kurang adanya kepercayaan pada Allah. Barangsiapa tidak berpendirian teguh dan membiarkan dirinya digoda, ia dilempar kian kemari bagaikan kapal tanpa kemudi.

            Apabila kita ditimpa godaan-godaan, janganlah kita putus asa, melainkan kita harus berdoa lebih giat kepada Allah memohon bantuanNya. Rasul Paulus berkata bahwa Allah tidak membiarkan kita dicobai melampaui kesanggupan kita. Sebab sejalan dengan pencobaan itu Allah menyediakan juga pembebasan, sehingga kita dapat bertahan melawan pencobaan-pencobaan.

            Marilah merendahkan diri kita di bawah tangan Allah yang mahakuasa, maka pada saat yang tepat Ia akan membangunkan kita.

  1. JANGAN MENGHUKUM

            Perhatikanlah dirimu sendiri dan janganlah menghakimi perbuatan-perbuatan orang lain. memang tak ada gunanya mengadili orang-orang lain. Dengan mudah engkau akan keliru dan mudah juga jatuh dalam dosa. Akan tetapi selalu dianggap baik, jika engkau menilai diri sendiri dan mawas diri,

            Biasanya kita mempunyai prasangka, lalu kita tidak dapat memberikan pertimbangan yang tepat. Jika kita ingin mengabdi kepada Allah dengan hati jujur, maka tidak mudah kita memberikan pendapat yang keliru dan bertumpu pada prasangka kita. Akan tetapi pendapat kita selalu dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang ada di dalam diri kita sendiri, atau yang berasal dari luar. Banyak orang secara tak sadar mencari diri sendiri dalam segala tindakan mereka. Dan selama semuanya berlangsung menurut kemauan mereka, mereka senang sekali. Tapi awas, kalau terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan mereka, maka mereka sama sekali hilang akal. Hanya karena terdapat perbedaan pendapat, sangat mudah timbul percekcokan di antara sahabat-sahabat, bahkan perpecahan di antara para penganut seiman.

            Rasanya sulit melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang lama, dan tak ada seorang yang suka ditegur oleh orang lain. jika kita lebih percaya kepada budi dan pengalaman kita sendiri daripada kekuatan ilahi Yesus Kristus yang melampaui segala sesuatu, maka mustahil kita dapat diterangi olehNya, setidak-tidaknya hanya sangat perlahan-lahan.

            Akan tetapi menurut kehendak Allah, kita harus menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya dan dengan cintakasih yang bernyala-nyala menundukkan semua pendapat hasil budi manusia.

 

15 MENCARI KESUNYIAN

            Sediakanlah waktu yang tepat untuk kepentingan dirimu sendnri. Bacalah Kitab Suci dan renungkanlah kebaikan Allah. Janganlah membaca karena ingin tahu, atau sekedar mengisi waktu, melainkan untuk mencapai kesadaran. Untuk hal ii engkau akan mendapat waktu secukupnya, jika engkau berhenti dengan segala omong kosong, bermalas-malas, dan jika engkau tidak lagi menaruh perhatian kepada pelbagai berita dan desas-desus.

            Barangsiapa ingin membangun kehidupan rohani yang mendalam, harus mencari kesunyian sama seperti Yesus. Engkau hanya dapat tampil dengan baik di muka umum, jika engkau suka juga menyendiri. Engkau hanya dapat berbicara dengan baik, jika engkau suka juga berdiam diri. Engkau hanya dapat memimpin dengan baik, jika engkau suka takluk kepada orang lain. Engkau hanya dapat menunaikan tugas-tugas dengan baik, jika engkau suka juga taat kepada orang lain. engkau hanya dapat benar-benar bergembira, jika engkau mempunyai angan-angan hati yang murni.

            Dalam kesunyian dan ketenangan imanmu dapat bertumbuh. Lalu engkau menemukan rahasia-rahasia Kitab Suci. Arahkanlah pandanganmu kepada Allah di dalam surga, dan mintalah kepadaNya pengampunan atas dosa-dosamu dan kelalaianmu. Masuklah ke dalam bilikmu untuk mendapatkan persatuan dengan Yesus di dalam kesunyian, sebab kedamaian yang demikian besar tak dapat kautemukan di mana pun juga. Andaikata tidak demikian sering perhatian kita tertarik oleh dunia yang hiruk – pikuk sekeliling kita, maka kedamaian batin kita pasti lebih besar. Ingin-tahu itulah yang membuat suasana batin kita tidak tentram.

Thomas A Kempis, Mengikut Teladan Kristus, Hl. 41

  1. YESUS DI ATAS SEGALA-GALANYA

            Engkau sungguh berbahagia jika engkau mengetahui apa artinya Yesus mengasihi engkau dan jika engkau menyisihkan dirimu demi Yesus. Engkau harus mengesampingkan segala sesuatu demi Dia, sebab engkau harus mencintai Yesus lebih daripada sesuatu yang lain. cinta dari mahluk-mahluk mengandung tipu dan tidak pasti, sedangkan Yesus setia dan kekal.

            Jika engkau berlekat hati pada suatu makhluk, maka bersama dengan makhluk yang goyah itu engkau akan jatuh. Akan tetapi bila engkau berpegang teguh pada Yesus, maka untuk selama-lamanya engkau berdiri kokoh.

            Hendaknya engkau mencintai Dia, sebab Dia adalah sahabatmu. Dia takkan meninggalkan engkau, meskipun semua orang lain meninggalkan engkau, dan Dia dapat menjamin sehingga kau takkan binasa. Sekali waktu kita toh harus berpisah dari semua orang, entah suka entah tidak.

            Hendaknya engkau berpegang pada Yesus dalam hidup dan mati serta percaya kepada kesetiaanNya, karena hanya Dialah yang dapat menolongmu bila setiap orang meninggalkan engkau.

            Yesus tidak ingin disejajarkan dengan orang lain. Ia ingin sebagai satu-satunya yang berdiam hatimu dan bertakhta sebagai Raja di atas singgasanaNya sendiri. Sekiranya kita mau melepaskan diri sama sekali dari makhluk-makhluk, maka Yesus pasti suka berdiam bersama kita.

            Engkau akan tertipu bila engkau menaruh harapan pada hal-hal akhir. Tapi jika engkau mencari Yesus, maka pasti engkau akan menemukanNya. Bila engkau mencari dirimu sendiri, engkau akan menemukan dirimu dan engkau akan menjadi sebab kejatuhanmu sendiri. Jika engkau tidak mencari Yesus, maka engkau mendatangkan atas dirimu lebih banyak kerugian daripada yang ditimbulkan oleh seluruh dunia dan oleh semua musuh-musuhmu bersama-sama.

Thomas A Kempis, Mengikut Teladan Kristus, Hl. 67-68

  1. AKU MENDENGARKAN

            Bersabdalah, Tuhan, hambaMu mendengarkan. Aku ini hambaMu, berikanlah aku pengertian agar aku mengetahui sabdaMu. Bersama nabi Samuel, aku mohon kepadaMu dengan rendah hati dan penuh kerinduan: Bersabdalah, Tuhan, hambaMu mendengarkan.

            Janganlah membiarkan musa berbicara kepadaku, dan jangan pula nabi-nabi yang lainm melainkan aku lebih suka Engkau sendiri, Tuhanku dan Allahku, berbicara kepadaku.

            Engkau telah menjiwai dan menerangi semua nabi, tapi tanpa ragu Engkau mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka boleh saja memperdengarkan kata-kata, tetapi mereka tidak dapat memberikan roh. Mereka berbicara bagus, tapi jika Engkau berdiam diri, mereka tidak dapat mengobarkan hati sampai bernyala-nyala. Mereka menyampaikan rahasia-rahasia kepada kami, tetapi Engkau mewahyukannya kepada kami. Mereka mewartakan kepada kami perintah-perintahMu, tetapi Engkau memberikan kami kekuatan untuk melaksanakannya. Mereka menunjukkan jalan, tetapi Engkau memberikan kekuatan untuk menempuh jalan itu. Karya mereka mengenai bagian luar, tapi Engkau berkarya di dalam hati kami.

            Karena itu janganlah Musa yang berbicara kepadaku, melainkan Engkau, Tuhan dan Allah, Kebenaran yang abadi, berbicara kepadaku. Sebab jika aku mengetahui hanya secara lahir tapi tidak tergugah secara batin, mungkin hidupku akan sia-sia belaka. Dan aku nanti dapat diadili karena aku sudah mendengarkan sabdaMu tetapi tidak mentaatinya, karena aku sudah mengenal Dikau tetapi tidak mencintai Engkau, karena aku sudah percaya kepadaMu tetapi tidak mengabdi Dikau.

            Bersabdalah, Tuhan, hambaMu mendengarkan. Engkau memiliki sabda hidup yang kekal. Bersabdalah kepadaku untuk memberikan aku semangat, untuk mengubah seluruh hidupku. Untuk kemuliaanMu, pujian serta hormat sepanjang segala masa!

Thomas A Kempis, Mengikut Teladan Kristus, Hl. 97-98

  1. MENGAKU KESALAHAN

            Tuhan, aku mau mengaku dosa-dosa dan kekurangan-kekuranganku kepadaMu. Seiring aku sudah putus asa dan bersedih hati oleh perkara kecil saja. Aku membuat niat untuk bersikap berani, tetapi baru saja timbul suatu kecenderungan kecil, aku sudah hilang akal. Dan jika aku merasa diriku aman sentausa, maka cukuplah satu tiupan angin yang tak seberapa untuk menumbangkan aku.

            Tuhan, Engkau mengenal kelemahan dan kerapuhanku, kasihanilah aku. Aku selalu goyah dan lemah dalam memerangi hawa nafsuku yang memukul aku sedemikian rupa, sehingga aku sangat malu dihadapanMu. Dan walaupun aku tidak menyerah kepadanya, namun perjuangan sehari-hari semacam ini sangat menyebabkan aku sadih hati. Pikiran-pikiran buruk lebih mudah datang kepadaku daripada meninggalkan daku. Ini membuktikan betapa lemah aku ini.

            Allah yang mahakuat bagi Israel, Engkau menyelenggarakan demikian baik keselamatan para berimanMu: perhatikanlah juga kesusahan dan kepentingan hambaMu ini. bantulah dia selalu, dan kuatkanlah aku dengan daya surgawi.

            Barangsiapa memandang hina terhadap dunia dan berusaha hidup tertib di hadapan Allah, dia mengakui kebaikan Allah yang dijanjikan kepada mereka yang menganggap rendah terhadap dunia. Mereka melihat dengan jelas betapa dunia ini sesat dan sering tertipu.

Thomas A Kempis, Mengikut Teladan Kristus, Hl. 111-112

  1. BERISTIRAHAT DI DALAM ALLAH

            Jiwaku harus senantiasa di dalam Allah, di atas segala sesuatu dan di dalam segala sesuatu. Allah adalah istirahat abadi bagi para berimanNya. Yesus yang baik dan mahapengasih, biarkanlah aku beristirahat di dalam Engkau; karena itu lebih berharga dari segala yang lain; lebih berharga dari segala kesehatan dan kecantikan; lebih berharga dari segala kemuliaan dan pujian; lebih dari segala hormat dan kekuasaan; lebih dari segala pengetahuan dan kepandaian; lebih dari segala kekayaan dan kesenian; lebih dari segala sukacita dan keriangan; lebih dari segala kemasyhuran dan penghargaan; lebih dari segala kesenangan dan penghiburan; lebih dari segala harapan dan janji; lebih dari segala prestasi dan keinginan; lebih dari segala hadiah dan pemberian yang Kauanugerahkan kepada kami; lebih dari segala sukacita dan kegembiraan yang dapat dialami oleh hati kami; bahkan lebih dari segala malaikat dan malaikat agung dan semua kekuasaan surgawi; lebih dari segala sesuatu yang kelihatan dan yang tak kelihatan; melebihi segala-gala yang bukan Engkau sendiri, ya Allah!

Thomas A Kempis, Mengikut Teladan Kristus, Hl. 113

Mengintip Bach, Beethoven, Mozart …

           Dengan rasa kagum sejarah mengabadikan nama komponis-komponis agung seperti Bach, Handel, Mozart, Beethoven, Schubert dan lain-lain. Mereka adalah jenius yang menghasilkan musik yang memberi rasa indah keapda hati umat untuk berabad-abad lamanya.

            Mungkin kita menduga bahwa sebagai jenius mereka dengan mudah menghasilkan karya-karya besar. Dugaan itu keliru. Karya mereka bukan lahir begitu saja, melainkan melalui banyak pergumulan belajar dan berdoa. Marilah kita mengintip pergumulan mereka.

            Johann Sabastian Bach (1685-1750) sudah menjadi yatim piatu pada usia sembilan tahun, justru pada saat ia belajar mengembangkan minatnya pada musik. Tetapi bach berkemauan keras. Ia membaca buku hanya dengan sinar bulan yang masuk ke jendela kaamrnya. Ia tidak segan berjalan kaki sejauh puluhan bahkan ratusan kilometer selama berhari-hari untuk bisa mendengarkan konser organ.

            Sebelum mengarang sebuah lagu, Bach berdiam diri, lalu di kertas kosong yang akan digunakannya ia menulis: J.J (Jesu Juva artinya Yesus, tolonglah saya). Kemudian kalau sudah selesai pada bagian akhir kertas itu Bach menulis: S.D.G (Soli Deo Gloria, artinya Kemuliaan bagi Allah). Bach mengagumi Daud yang memberikan tempat yang penting pada nyanyian dan musik dalam ibadah. Dalam Alkitabnya, di bawah 1 Tawarikh 25, Bach mencatat: “Musik adalah buah Roh Kudus.” Bach juga sangat terkesan pada 2 Tawarikh 5:13-14 “Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya. Pada ketika itu rumah Tuhan dipenuhi awan. Kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah.”

            George Frederic Handel (1685-1759) mempunyai cara lain dalam pergumulan mencari ilham. Untuk mengarang sebuah oratorium Handel mengurung diri selama berhari-hari di kamarnya. Ia tidak mau berteu dengan siapapun. Pada suatu hari ia pernah keluar dari kamarnya memegang kertas-kertas berisi karyanya sambil menangis dan berteriak, “Saya telah melihat sorga, saya telah melihat Tuhan!”

            Franz Joseph Haydn (1732-1809) lahir dalam keluarga miskin di desa di pedalaman Austria. Ia mencari nafkah dengan jalan menjadi pemain biola di depan restoran. Baru kemudian hari ia bekerja sebagai musikus di rumah-rumah bangsawan. Haydn dijuluki “Bapak segala simfoni”, sebab ia mengarang begitu banyak simfoni. Sebelum ia mengarang suatu simfoni, ia lebih dulu bertelut di depan pianonya dan meneduhkan diri. Ia pernah menjelaskan, “Dalam keteduhan seperti itulah saya meminta bakat yang diperlukan untuk bisa memuliakan Tuhan dengan pantas.”

            Wolfgang Amadeus Mozart (1756-1791) belajar piano pada usia empat tahun, dan pada usia enam tahun ia sudah bermain konser. Segala sesuatu berjalan begitu cepat dalam hidup Mozart. Ia melejit ke atas sebagai pemusik yang paling populer di Austria. Banyak orang jadi penggemarnya, tetapi banyak juga yang membenci dan iri kepadanya.

            Pernah Mozart menulis kepada ayahnya, “Papa jangan khawatir, saya dipelihara Tuhan. Saya sering takut Tuhan marah, tetapi saya merasakan kemurahan hati dan kelemah-lembutan Tuhan.” Mungkin karena merasakan kemurahan Tuhan, maka Mozart bermurah hati kepada banyak orang. Ketika rekannya sakit, Mozart menggantikan kawannya untuk menyelesaikan karyanya, lalu seluruh pembayaran untuk karya itu diserahkan kepada kawannya. Mozart meninggal pada usia 35 tahun dalam keadaan yang mengenaskan. Untuk membeli peti jenazah pun tidak tersedia uang.

            Ludwing von Beethoven (1770-1827) terserang penyakit telinga menjelang usia 30 tahun, lalu ia menajdi tuli secara total. Bayangkan bagaimana terpukulnya seorang komponis lagu kalau ia menjadi tuli. Dalam kesedihannya ia menulis, “Aku merasa sepi, sangat sepi. Tetapi aku merasa Tuhan dekat.”

            Beethoven banyak membaca buku renungan. Buku kegemarannya adalah Imitatio Christi (Meniru Kristus) karangan Thomas Kempis.

            Walaupun Beethoven tuli, namun ia tetap produktid sepanjang hidupnya dengan menghasilkan begitu banyak simfoni, oratorio, opera dan sonata piano yang menakjubkan. Salah satu warisannya adalah nyanyian “Kami Puji Dengan Riang” di Kidung Jemaat no 3.

            Franz Peter Schubert (1797-1828) lahir dalam keluarga guru sekolah dasar yang miskin. Untuk mengarang lagu ia tidak mampu membeli kertas, sehingga ia menulis di kertas bekas. Schubert meninggal dalam usia 31 tahun karena wabah typhus yang melanda perkampungan kumuh di kota Wina tempat ia tinggal. Dalam catatannya ia menulis: “ketika saya menciptakan musik, saya beribadah kepada Tuhan, dan saya menciptakan musik supaya orang beribadah kepada Tuhan.”

            Tulisan di atas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa komponis-komponis besar itu orang-orang sempurna. Mereka manusia biasa dengan sifat buruknya masing-masing. Misalnya, Handel dikenal sebagai orang yang suka mengumpat dan memaki. Mozart kurang dewasa dalam kepribadiannya dan suka memboroskan uang untuk berfoya-foya. Beethoven gampang naik darah, sehingga ia pernah melemparkan makanan di piring ke wajah seorang pramusaji restoran hanya karena makanan itu tidak sesuai dengan yang dia pesan.

            Yang mau dicatat di sini adalah bahwa orang-orang jenius itu dengan rendah hati mencari Tuhan sebagai sumber ilham. Mereka merasakan kedekatan dan keakraban denganTuhan sebagai saat-saat yang mengilhami karya musik mereka. Mereka mengaku bahwa bakat mereka adalah pemberian Tuhan dan adalah pantulan kemuliaan Tuhan, karena itu untuk kemuliaan Tuhan jugalah mereka mempersembahkan karya mereka yang agung itu. Kata dan nada yang lahir dari jari mereka adalah sentuhan tangan Tuhan. Ilham yang mereka peroleh adalah percikan Roh Tuhan.

Dikutip dari serial buku, “Selamat Menabur” karya Pdt. Dr. Andar Ismail, Th.M.

Antologi Puisi dalam buku “Kami Ketagihan Tuhan, Benih – Benih Kontemplasi” karya Pius Budiwijaya, OCSO

“Masuklah ke kamar jiwamu yang lebih dalam,

Tinggalkan di luar segala sesuatu kecuali Tuhan;

Dan setelah mengunci pintu, temukan dia.

Bicaralah sepenuh hati kepada Tuhan:

Lihatlah kami, ya Tuhan,

Dengarkanlah kami,

Terangilah kami,

Perlihatkan diri-Mu kepada kami.

Berikanlah diri-Mu kepada kami,

Supaya kami baik adanya.

Sebab tanpa Engkau

Buruk adanya dengan kami.

Kasihanilah usaha kami dan jerih-payah kami

Yang menuju kepada-Mu,

Sebab kami tidak akan dapat mencapai sesuatu

Tanpa Dikau.”

St. Anselmus

kutipan buku “Kami Ketagihan Tuhan , Benih – Benih Kontemplasi” karya Pius Budiwijaya, OCSO hl. 6

Setiap orang mencinta;

Hanya soalnya, apa yang dicinta?

Maka kita tidak dianjurkan “jangan mencinta ini atau itu, melainkan supaya memilih yang dicinta.

Tetapi bagaimana kita dapat memilih,

Kalau kita tidak lebih dulu dipilih?

Kita tidak dapat mencinta kalau lebih dulu dicinta.

St. Agustinus

kutipan buku “Kami Ketagihan Tuhan , Benih – Benih Kontemplasi” karya Pius Budiwijaya, OCSO hl. 7

  1. Rayuan Langit

 

Langit tengah bercumbuan dengan bumi …

 

Kesabaran tumbuhnya pepohonanmy mirip

kesabaran Allah, sayang …

 

Nota Bene; ilalang, rumput liar dan

putri malumu pun tumbuh sabar meriap subur!

 

 

Sungai-sungaimu setia mengalir,

sambil melenggang di sana berdendang di sini …

 

Akan tetap setiakah kau padaku, sayang,

sekalipun tersayat derita teriris rindu

akan sesuatu yang bukan langit?

 

Ku ingin turun ke kedalaman lautmu, sayang,

ku tergiur ambisi untuk mengarungi

sapta samudramu, sayang,

 

Lalu berlabuh di pantai-pantai hatimu

yang putih …

 

Jawab Bumi: tapi jangan mendarat di pantaiku

yang hitam …

 

Ah, aku langit akan singgah juga di pantaimu

yang kelabu …

 

Tukas Bumi cekatan: jangan, nanti kamu

jadi kelabu …!

 

Kelabu adalah warna mantolku, sayang,

sedangkan warna jiwaku selalu biru cerah

simbol setia ceria …

 

Aku langit selalu jaga gengsi selalu tinggi

selalu membentang, selalu membintang,

selalu melengkung, untuk memelukmu molekku

yang … sok jelek!
Kenapa kamu mencintaiku yang jelek?

aku Bumi kan selalu jelek, penuh debu

berpupur lumpur agar bopeng-bopengku

tak terbuka …

 

Ah, sayang, aku Langit lihat semua dan

tiada yang menghalangi penglihatanku …

ku lihat dalam inti diri Genduk Bumi:

tambang-tambang berharga

seperti minyak, emas dan berbagai logam …

tak terlupakan mutiara-mutiara sangat

Berharga, yang dikejar-kejar para saudagar …

 

Dalam benaman lumpur pun kadang

tertemukan satu dua butir gemerlap itu

yang menawan hati …!

 

Menawan hati dan merobek hati, ya Mas Langit?

 

ah Mas Langit, jangan korek-korek lagi

liku- liku jalan riwayatku … malu aku …

 

Kau begitu peka dan perasa, Genduk Bumi …

tapi mengapa kecil hati dan menjurus lagi

ke pesimisme, kau kan sudah ditebus?

 

Dan ditebus secara berlimpahan …

 

Lalu menangislah Langit yang mulia hati itu …

cucuran air matanya adalah hujan yang

membasahi muka Bumi.

persatuan Langit dan Bumi menjadi kian kuat dan kian mesra …

kutipan buku “Kami Ketagihan Tuhan , Benih – Benih Kontemplasi” karya Pius Budiwijaya, OCSO hl. 33

 

  1. Momen- Momen Kontemplasi

 

Semakin penting seseorang

semakin ia kesepian

dalam isolasinya yang tak disengaja

 

Ia bisa mendaki tiap anak tangga

kesendiriannya, menjadi tiap trap

kesepiannya

 

Itulah momen kontemplasi bertahap.

 

Tiap trap naik, adalah perebutan jarak

ke semakin sepi,

 

Tapi di puncak sepi sana

Seseorang menanti!

 

Dalam tukar pendapat

dan saling berselisih,

dalam saling bersilang

dan bersaliban keyakinan,

pijar-pijar kebenaran baru: bermunculan!
pijar-pijar yang lebih bercahaya

daripada keyakinan kuno

yang telah mapan dan telah

mepet dan tertutup.

 

Pijar baru ini adalah

momen kontemplasi.

api ini ilahi dan menyulut sumbu hati.

dengan nyala ilahi di hati

kita masuk dalam nyala ilahi di Gusti.

 

Itulah satu keping pola kontemplasi.

 

Ada perangai yang serba takut,

lemah dan mudah gentar,

ia boleh turun terus

lewat trap-trap yang kian gelap

dan kian menimbulkan ketakutan

 

Sampai ia seluruhnya

menjadi simbol ketakutan

dan sumber kegentaran

 

Tertatap pada realitas keras: TUHAN!

 

Ia boleh menjerit dengan sepuas hati

sekuat tenaga: TUHAN!

 

Dalam iman sekuat baca sebesar gunung

sedalam laut!

 

Tanpa tersadari ia telah mendaki

anak tangga pertama kontemplasi.

 

Bila orang beriman memahami bahwa

keabadian telah tiba di pangkuan waktu

 

Dan kebangkitan badan dipahami baik,

dialami asyik,

 

Dan dirasa di sukma secara badani,

dirasa di badan secara sukmawi …

 

Maka ia bahagia tanpa tahu mengapa

telah berada di anak tangga terakhir

dan tertinggi kontemplasi.

kutipan buku “Kami Ketagihan Tuhan , Benih – Benih Kontemplasi” karya Pius Budiwijaya, OCSO hl. 39

 

20. Warna Mantol Tuhan

Mengira diri benar

bisa sesat.

 

Mengira diri salah

bisa selamat …

 

Ku mendaki jalanku

yang mulai menjadi setapak.

 

Sengat-Nya masih terasa

maka semangat-ku masih ada.

 

Sambil mengenang pesan Guru

bahwa dari genting tak bisa

dibuat cermin

 

bahwa perasaan penting tidaklah

menjamin …

 

lalu kulihat langit menekuk

kekelaman melamun kegelapan turun.

 

Jiwaku diliputi oleh suara

seperti laut menderu …

 

Namun aku tetap saja ditarik rindu

maju, maju, maju …

 

sampai kutabrak keras tembok ….

 

Ternyata jalanku tertutup tebal tembok!

 

Jalanku buntu jiwaku benjol

hatiku dongkol …

 

Untung kuingat sebuah khotbah

sekeping kata

 

bahwa hitam adalah warna mantol Tuhan …

dan tembok yang menghalangi

ada sikap Tuhan yang membelakangi.

 

Kutabrak Punggung-Nya

kusentak Hati-Nya

 

aku telah terpeluk oleh selubung

hitam-Nya.

kutipan buku “Kami Ketagihan Tuhan , Benih – Benih Kontemplasi” karya Pius Budiwijaya, OCSO hl. 47-48

23. Recik – Recik Rindu

Bila Roh rawuh

Ia menjernihkan segala

mengatur semua.

 

Roh memisahkan daratan hati

dari lautan rasa.

 

Memisahkan gelap gulita emosi

dari terang nalar.

 

Bila Roh datang

Ia membuka langit baru

di atas hati yang menyempit.

 

Bila Roh rawuh

Ia mengubah padas

menjadi sumber air segar

yang melimpahi ladang-ladang hati.

 

Bila Roh datang

Ia membuka budi

 

Ia menguraikan belenggu nalar

 

Ia merantai emosi liar

 

Ia menata imajinasi,

mencipta proporsi-proporsi.

 

Mengukir irama-irama Rasa

menyungging keanggunan Budi

keindahan Bahasa.

 

Mendendangkan nada-nada baru

di pita sukma

yang merekamnya jadi nostalgia

dan kepayang rindu.

 

Kepada apa atau siapa?

Kepada Dia yang Pencipta Lagu

 

Dan kepada Kediaman-Nya

yang sehari sama dengan seribu!

 

Seribu tahun!

 

Bila Roh itu rawuh

yang terkosong pun penuh.

 

Tulang-tulang dan tenaga-tenaga

yang berserakan ke keempat

kiblat pun

 

kembali ke Pusat- Diri.

 

Bila Roh itu datang

terbebaskanlah

bakat-bakat lukis moral kita

 

di kain-kain kehidupan yang

lebar-lebar berlembar-lembar.

 

Lalu kita kagum tak percaya

bingung karena begitu bungah:

betulkah keindahan-keindahan

cipta – rasa – karsa – karya ini oleh kita?

 

Lalu tahu-tahu recik-recik rindu

telah merayapi tiap sel jiwa- raga kita

 

Kita ingin segera lari

kepada Dia yang mengajar kita

melukis indah

menggambar bagus.

 

Ingin ketemu Dia yang

memandaikan si bocah

menterampilkan si lamban

meluweskan si kaku

mencairkan si beku ….

 

Kita mencarinya ke luar rumah

ke luar daerah namun

… frustasi!

 

Kembali kita pulang.

masuk ke inti-diri.

 

Dengar sapaan sepoi

dari dalam intiku:

Selamat datang, sayang!

 

Jiwa menjerit riang

seriang jerit Magdalena:

GUSTI ….!

kutipan buku “Kami Ketagihan Tuhan , Benih – Benih Kontemplasi” karya Pius Budiwijaya, OCSO hl. 55-58

 

Litani “Serba Salah”

1

Kalau pastornya muda, dibilang masih bloon
kalau pastornya tua, sebaiknya pensiun saja
kalau khotbahnya terlalu panjang , dibilang menjengkelkan
tapi kalau cepat, ‘kok kayak kereta ekspres’
kalau mulai misa tepat waktu , katanya kaku
kalau terlambat, ‘idih pastornya malas’
kalau di kamar pengakuan menasehati , katanya banyak omong
kalau sebaliknya, dibilang tidak tanggap
kalau mengikuti pendapat umat , dibilang tak punya pendirian
kalau pakai pendapat sendiri, dicap diktator.
kalau keuangan paroki mepet , katanya pastornya tak pintas usaha
kalau ngomongin soal uang, dibilang mata duitan.
kalau mengadakan misa lingkungan , katanya tak pernah kunjungan keluarga
kalau mengunjungi keluarga, “kapan pastornya misa lingkungan
kalau pastornya tak ada di pastoran , dicap tukang ngeluyur
tapi kalau ada, “pastor kok gak pernah pergi –pergi “
kalau memperhatikan anak-anak dibilang , masa kecil kurang bahagia
kalau memerhatikan mudika, giliran orang tua ngegosip
kalau nonton teve dibilang enak-enakan
kalau tidak, dibilang enggak mengikuti zaman.
tapi kalau pastornya mati, siapa yang mau ganti ?

2

Kalau ia muda,
dianggap tak berpengalaman
tapi bila rambutnya beruban,
ia dianggap terlalu tua

Kalau keluarganya besar,
ia adalah beban jemaat
bila tidak mempunyai anak,
ia tidak bisa diteladani
kalau istrinya aktif,
dituduh ingin menonjolkan diri
bila ia tidak aktif,
ia dianggap tidak mendukung pelayanan suami.

Kalau kotbah sambil membaca,
sangat membosankan
kalau diluar kepala (tidak membaca),
itu tandanya tidak mempersiapkan diri

Kalau ia berusaha melakukan pembaharuan,
ia dituduh sewenang-wenang
kalau melanjutkan saja yang ada,
ia dianggap boneka

Kalau khotbahnya banyak contoh,
itu kurang alkitabiah
kalau tidak , kotbahnya terlalu tinggi

Kalau ia gagal menyenangkan hati seseorang,
itu berarti ia menyakiti hati jemaatnya
kalau ia berusaha menyenangkan hati semua orang,
berarti ia penjilat

Kalau ia terus terang dalam kebenaran
dianggap sengaja menyinggung perasaan
kalau tidak, ia dianggap pengecut

Kalau khotbahnya panjang,
membuat orang mengantuk
kalau khotbahnya pendek
ia pendeta malas…………….

Ia mesti bijaksana seperti burung hantu
gagah berani laksana rajawali
rendah hati bak merpati
bersedia makan apa saja layak burung kenari

Ia mesti seorang ekonom
politikus pencari dana
penasihat perkawinan
bapa yang berwibawa
sopir taksi yang ramah
orator yang ulung
dan gembala yang arif

Ia mesti melawat semua orang sakit,
semua orang kawin dan semua orang mati

Ia mesti bisa bergaul dengan
anak-anak, remaja , pemuda sampai orang tua
ia mesti pandai berbicara dan menulis

Ia seorang pelayan yang harus mau merendah
sekaligus pemimpin yang berwibawa.

________

Sumantri , Yustinus SJ . 2001 . Litani serba salah Pastor , 100 cerita bijak . Jogjakarta : Kanisus. (hal 66-67)

GKI Kebayoran Baru . 2012 . Melakukan Kehendak Dan Menyelesaikan Pekerjaaan-Nya. Jakarta : Gereja Kristen Indonesia Kebayoran Baru (hlm 48-51)