Dari Reformasi Menuju Modernitas: Pengenalan Gereja Protestan dalam Aspek Tokoh, Ajaran, Hukum, Ritual dan Simbol Gereja

Dari Reformasi Menuju Modernitas: Pengenalan Gereja Protestan dalam Aspek Tokoh, Ajaran, Hukum, Ritual dan Simbol Gereja

Tugas paper Pendidikan Agama Katolik Kelas XII
Jacko Ryan | XIIS1/19

Pengantar

     Abad  ke-16, tepatnya pada tahun 1597 menjadi ‘gerbang awal’ munculnya gerakan reformasi Gereja sekaligus memunculkan sebuah aliran baru dalam Gereja. Diawali dari protes seorang mantan biarawan ordo Agustinian asal Jerman bernama Martin Luther yang menentang ajaran-ajaran Gereja Katolik, hal ini dibuktikan dari tindakan Martin Luther yang menulis 95 dalil atau ajaran Gereja Katolik yang ia protes dan memaku 95 dalil (atau dalam bahasa resminya disebut Ninety-five Theses of Martin Luther) yang ia buat di pintu gerbang Gereja Wittenberg, Jerman. Tindakan ini pun dipandang sebagai ‘kemerdekaan’ bagi banyak orang, terkhusus masyarakat Eropa saat itu. Hal ini dibuktikan dengan banyak tokoh-tokoh reformasi lainnya yang juga menentang Gereja Katolik dan akhirnya membentuk denominasi Gereja baru dan terpisah dengan Gereja Katolik, contohnya antara lain seperti: (1) Jean Calvin yang merupakan tokoh reformasi yang berasal dari Swiss dan melahirkan ajaran Calvinisme. (2) Ulrich Zwingli yang merupakan tokoh reformasi yang berasal dari Swiss dan melahirkan ajaran Reformed. (3) John Wycliffe yang adalah tokoh reformasi yang berasal dari Inggris dimana ia menterjemahkan Alkitab Bahasa Latin (clementine vulgate) ke dalam Bahasa Inggris (Wycliffe Bible).

            ‘Kemerdekaan’ yang dibuat Luther pun ternyata menular sampai ke seluruh dunia, dibuktikan dengan munculnya tokoh John Wesley yang merupakan penggagas dari Gereja Anglikan (Episcopal Church) di Inggris sampai munculnya Gerakan Kharismatik di Amerika Serikat. Negara Indonesia pun juga mendapat pengaruh dari gerakan reformasi Gereja. Agama Protestan masuk ke Indonesia melalui para zending (misionaris) seperti Ludwig Nommensen, Sebastian Danckaerts dan Adriaan Hulsebos dan Hernius. Alhasil, Kristen Protestan di Indonesia terus berkembang sampai saat ini sehingga menghasilkan 88 denominasi Gereja di Indonesia sampai saat ini[1].

            Dalam paper ini, penulis akan mengungkapan lebih dalam mengenai tokoh-tokoh dalam Gereja Prostestan, ajaran Gereja Prostestan, hukum Gereja Protestan, ritual Gereja Protestan dan simbol dalam Gereja Protestan. Secara khusus, penulis juga akan lebih menampilkan ajaran Kristen Protestan versi John Calvin karena sesuai dengan aliran Gereja penulis yakni GKI[2].

Tokoh Gereja Protestan

  • Yesus Kristus

            Yesus Kristus sebagai tokoh sentral dalam agama Kristen Protestan. Umat Kristen menganggap Yesus sebagai Kristus, atau juru selamat (Mesias), dan mempercayai bahwa melalui kematian dan kebangkitan-Nya, manusia dapat didamaikan dengan Allah dan karenanya memperoleh tawaran keselamatan serta janji akan kehidupan kekal.

            Sebagian besar denominasi Kristen mempercayai bahwa Yesus, sebagai Anak Allah, memiliki kodrat manusia sekaligus Ilahi[3]. Meskipun ada perdebatan teologis mengenai kodrat Yesus, penganut paham Tritunggal meyakini bahwa Yesus adalah sang Firman, Allah yang menjelma, Allah Putera, dan “sungguh Allah sungguh manusia”. Yesus telah menjadi manusia sepenuhnya dalam segala aspek, mengalami rasa sakit dan godaan sebagai seorang manusia biasa, namun Ia tidak berbuat dosa. Sebagai Allah yang sepenuhnya, Ia mengalahkan maut (kematian) dan bangkit kembali. Menurut Kitab Suci, Yesus bangkit, naik ke Surga, dan duduk di sebelah kanan Bapa. Kemudian dikatakan bahwa Yesus akan kembali ke bumi untuk mengadili manusia dan mendirikan Kerajaan Allah di dunia yang akan datang.

  • Martin Luther

            Martin Luther adalah seorang pastur ordo Agustinian yang berasal dari Jerman dan ahli teologi Kristen sekaligus pendiri Gereja Lutheran, (pecahan dari Katolik Roma). Dia merupakan tokoh terkemuka bagi Reformasi. Ajaran-ajarannya tidak hanya mengilhami gerakan Reformasi, namun juga memengaruhi doktrin, dan budaya Lutheran serta tradisi Protestan. Seruan Luther kepada Gereja agar kembali kepada ajaran-ajaran Alkitab telah melahirkan tradisi baru dalam agama Kristen. Gerakan pembaruannya mengakibatkan perubahan radikal juga di lingkungan Gereja Katolik Roma dalam bentuk Reformasi Katolik.

  • Jean Calvin / John Calvin

            Jean Calvin merupakan teolog Kristen terkemuka pada masa Reformasi Protestan yang berasal dari Perancis yang juga ‘seangkatan’ dengan Martin Luther. Namanya kini dikenal dalam kaitan dengan sistem teologi Kristen yang disebut Calvinisme. Ia dilahirkan dengan nama Jean Chauvin (atau Cauvin) di Noyon, Picardie, Perancis. Bahasa Perancis adalah bahasa ibunya. Calvin berasal dari versi Latin namanya, Calvinus.

            Bertolak belakang seperti Martin Luther yang merupakan seorang teolog handal dan menguasai Teologi, Jean Calvin memiliki latar belakang hukum dan  berpendidikan sebagai seorang ahli hukum humanis. Kemudian ia memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma pada sekitar tahun 1530. Sampai akhir hayatnya, Calvin mendorong gerakan Reformasi Protestan di Jenewa dan seluruh Eropa.

  • Ludwig Ingwer Nommensen

         Ludwig Ingwer Nommensen merupakan tokoh zending agama Protestan yang berkarya di Indonesia (khususnya tanah Sumatera Utara) dalam penyebaran Agama Kristen Prostestan di Indonesia. Nommensen yang berasal dari Jerman membawa ajaran Lutheran ke tanah batak dengan strategi awal yakni membuka pos-pos penginjilan dan sekolah-sekolah serta berhubungan baik dengan para raja-raja batak[4].   Nommensen meninggal pada tanggal 23 Mei 1918, pada umur 84 tahun. Nommensen kemudian dimakamkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku Batak, setelah bekerja demi suku ini selama 57 tahun lamanya dan mitosnya mengatakan bahwa Nommensen meninggal akibat ditangkap dan dimakan hidup-hidup oleh suku-suku batak ketika sedang menginjili. Nommensen juga sebagai pendiri Gereja terbesar di Indonesia yaitu Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)[5].

Ajaran Gereja Protestan

  • Ajaran lima Sola Martin Luther (The Five Solae of the Protestant Reformation)[6]

            Ajaran ini menjadi dasar bagi seluruh Gereja Protestan yang dibuat Reformator Protestan, Martin Luther. Ajaran ini juga yang “menandingi” tiga ajaran dasar Katolik yakni: Kitab Suci, Tradisi dan Kekuasaan Magisterium. Berikut isi dari ajaran lima Sola Martin Luther:

  1. Sola Gratia (hanya dengan kasih)
  2. Sola Fide (hanya dengan iman)
  3. Sola Sciptura (hanya dengan Alkitab)

            Ketiga diatas merupakan ajaran pokok dari Martin Luther. Makna teologis dari ketiga poin diatas adalah, “Manusia hanya dapat diselamatkan oleh anugerah (gratia – grace) dan manusia akan mendapatkan keselamatan itu dengan menyerahkan diri dalam iman (fidei – faith) atau mengimani Kristus Yesus. Selanjutnya, di dalam alkitab (sciptura -scripture, kita dapat mengenal Yesus Kristus, Allah dan kehendak-Nya.

  1. Solus Christus (Kristus yang ditinggikan)
  2. Soli Deo Gloria (kemuliaan hanya untuk Allah)
  3. Sola Ecclesia (hanya dengan Gereja)[7]
  4. Sola Caritas (hanya dengan cinta kasih)[8]
  • Ajaran TULIP dari Jean Calvin[9]

            Jean Calvin menggambarkan ajaran Calvinisme dengan gambaran dan bentuk tulisan acrostic (kumpulan huruf bermakna), yang membentuk kata ‘TULIP’. Lima pokok itu adalah:

  1. T – Total Depravity (Kerusakan Total)

            Calvin menanggapi bahwa manusia sungguh terbelenggu oleh Iblis dan sama sekali tidak mampu memanfaatkan kehendaknya sendiri untuk percaya kepada Kristus.

  1. U – Unconditional Election (Pemilihan Tak Bersyarat)

            “pemilihan” tak berdasarkan kehendak ataupun kondisi yang dilakukan manusia, melainkan merupakan kehendak Sang Pencipta. Pada dasarnya, manusia tidak mempunyai kebebasan kehendek karena terbelenggu dosa dan iblis, maka satu-satunya harapan adalah bahwa Allah yang telah memilih kebebasan kehendakNya sendiri untuk memilih manusia supaya diselamatkan.

  1. L – Limited Atonement ( Penebusan yang Terbatas)

           Kristus mati untuk menyelamatkan orang-orang tertentu dan khusus yang diberikan Bapa kepada-Nya sejak dalam kekekalan. Dengan demikian, kematian-Nya adalah kesuksesan seratus persen, dimana bagi orang-orang tersebut Kristus telah mati dan mereka akan diselamatkan. Dan bagi mereka yang tak mengimani Kristus yang mati akan menerima “penghukuman” dari Allah sehingga mereka dibuang ke dalam neraka.

            Dengan bahasa mudahnya, doktrin ini menyatakan bahwa penebusan Yesus Kristus di kayu salib adalah terbatas hanya pada lingkup untuk orang-orang pilihan yang telah dipredestinasikan[10] Allah untuk keselamatan.

  1. I – Irresistible Grace ( Anugerah yang Tidak Dapat Ditolak)

        Anugerah Allah tidak dapat ditentang karena Allah memiliki “anugerah yang tak dapat ditolak”. Maka anugerah dipandang juga sebagai Karunia Kehidupan (Pembaharusan/ Regenerasi). Regenerasi manusia terjadi ketika mereka dulu pertama kali “mati dalam pelanggaran dan dosa” dan berorientasi kepada Iblis, maka sekarang mereka dijadikan hidup di dalam Kristus dan berorientasi kepada Allah. Calvin menyatakan bahwa urutan itu adalah: (1) Anugerah Allah akan kehidupan manusia, kemudian iman manusia timbul dan menuntun manusia pada keselamatan.

  1. P – Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-Orang Kudus)

            Seseorang yang telah diselamatkan akan terus menerus diselamatkan. Orang yang telah percaya akan Kristus tidak akan terhilang. Orang yang telah diselamatkan juga akan bertekum terus menerus dalam panggilanNya dan terus percaya sampai selamanya. Allah bertekun (dan juga empati) kepada GerejaNya dan senantiasa memelihara orang-orang kudus. Ini adalah perbuatan aktif Allah dalam memelihara dan melindungi orang yang percaya sehingga tak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dari Allah. (Lih. Roma 8:29-39 dan Yoh 10: 28-29).

  • Kedaulatan Allah (The Sovereignty of God)

            Allah adalah berdaulat, seluruh realitas di dunia ini ada di bawah pengaturan Allah. Dia adalah sempurna dalam setiap segi dan memegang seluruh kebenaran dan kuasa, Dia juga yang menciptakan segala sesuatu dan memelihara oleh kehendakNya. Sebagai pencipta, Dia tak terbatas oleh CiptaanNya. Allah bekerja di dalam sejarah manusia untuk memenuhi maksud-Nya, karena tujuan akhir kehidupan manusia untuk memuliakan Allah ( Gloria dei atau Soli Deo Gloria atau AMDG).

           Paham tentang ‘Kedaulatan Allah’ ini pun sempat menjadi ideologi negara (swiss dan belanda pernah menganut ideologi ini di masa pemerintahan pengikut Calvin), ideologi Kedaulatan Tuhan dalam suatu negara adalah dimana kekuasaan tertinggi suatu negara dipegang oleh raja yang adalah wakil Tuhan dalam menjalankan hukum Tuhan di dunia. Negara penganut sistem ini disebut negara Teokrasi.

  • Ecclesia Reformata Semper Reformanda est (Gereja yang sudah dibarui harus selalu diperbarui)

            Istilah ini pertama kali muncul bukan dari perkataan John Calvin atau Martin Luther. Istilah ini disebutkan pertama kali oleh Theolog Jerman, Karl Barth yang merujuk pada perkataan St. Agustinus. Walaupun bersumber dari Gereja Katolik, istilah Ecclesia Reformata Semper Reformanda est cenderung digunakan untuk golongan reformasi, yakni Protestan.

         Gereja yang diperbaharui disini bukan berarti Gereja yang senantiasa berubah terus menerus mengikuti zaman. Kata “Ecclesia semper reformanda” (Gereja yang harus diperbarui) harus berdampingan dengan kata “Ecclesia semper eadem” (Gereja yang sama). Dengan kedua kata tersebut itu Gereja ingin menegaskan bahwa Gereja itu seharusnya “tetap sama” sekaligus “diperbarui.” Singkatnya, pembaruan berarti pemurnian (semper purificanda).

Hukum Gereja Protestan

  • Katekismus Heidelberg[11]

            Katekismus Heidelberg adalah pedoman pengajaran agama Kristen Calvinisme dan kitab pengakuan iman Gereja-gereja Calvinis yang berbahasa Jerman dan Belanda. Katekismus ini disusun oleh suatu panitia yang dibentuk oleh Friedrich III dari Kurpfalz.

            Dengan datangnya orang Belanda ke Indonesia, Katekismus Heidelberg pun mulai dikenal orang-orang Kristen di Indonesia. Pada 1623 katekismus ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Pdt. Seb. Danckaerts. Hingga kini Katekismus Heidelberg masih banyak digunakan di kalangan Gereja-gereja yang berasal dari zending Gereja-gereja Gereformeerd di Belanda, yaitu gereja-gereja di Jawa Tengah, Sumba, Sulawesi Selatan, dan Papua.

  • Katekismus Kecil dan Katekismus Besar Martin Luther[12]

            Kedua Katekismus ini disusun langsung oleh Martin Luther pada 1529 yang berfungsi untuk mengajarkan anak-anak Kristen. Katekismus ini dibagi menjadi lima bab, yakni: Kesepuluh Firman, Pengakuan Iman, Doa Bapa Kami, Baptisan, Perjamuan Kudus dan ditutup dengan pesan Martin Luther tentang pengakuan dosa. Saat ini, buku Katekismus Martin Luther dipakai untuk persiapan para remaja untuk mengikuti Katekisasi atau Sidi.

  • 95 Dalil Martin Luther ( Martin Luther’s 95 Theses)[13]

            Bantahan Dr. Martin Luther Mengenai Pertobatan dan Surat Pengampunan Dosa atau yang dikenal 95 Dalil Martin Luther merupakan 95 poin-poin bantahan Martin Luther terhadap ajaran-ajaran Gereja Katolik saat itu, yakni tentang Indulgensi, otoritas Kepausan dan Penitensi.[14]

            95 Dalil yang ditulis oleh Luther sendiri pada tanggal 31 Oktober 1517 dipaku di pintu Gereja Kastil di Wittenberg. Hal itu didasari dari tindakan Luther juga mendekati para pemimpin gereja yang kompeten dengan seruannya yang mendesak untuk mengadakan pembaruan, tetapi seruan Luther tidak didengar oleh pihak Uskup disana. Akhirnya, Luther mengedarkan dalil-dalilnya ini secara pribadi. Dalil-dalil ini segera menyebar dan dicetak di Nurenberg, Leipzig, dan Basel. Tiba-tiba tulisannya itu bergema di seluruh Jerman hingga ke luar perbatasannya.

            Luther menghasilkan dampak yang luar biasa kepada dunianya. Ke-95 dalilnya ini menjadi sangat populer dalam waktu yang sangat singkat. Gagasan-gagasannya tidak hanya berbicara kepada suatu kelompok masyarakat saja, karena para pengikutnya datang dari segala golongan. Akibatnya, Paus Leo X berharap agar Martin Luther mencabut apa yang disebutnya sebagai ke-41 kesalahan Gereja, sebagian dari ke-95 dalilnya dan lain-lainnya dari tulisan-tulisan dan ucapan-ucapan yang dianggap berasal dari Luther. Luther menolaknya di hadapan Diet Worms pada 1521, dan dengan demikian secara simbolis memulai Reformasi Protestan.

  • 10 Perintah Allah (Dekalog)

            Merupakan sebuah daftar perintah agama dan moral, yang merupakan perintah tulisan Tuhan Allah dan diberikan kepada bangsa Israel melalui perantaraan Musa di gunung Sinai di atas dua loh (tablet) batu. Perintah-perintah tersebut memiliki keistimewaan yang terkenal dalam agama Yahudi dan Kristen. 10 perintah Allah ini dapat dilihat di Keluaran 20: 1-17.

            Perbedaan 10 perintah Allah juga terdapat pada macam-macam denominasi Kristen dan agama lain. Berikut tabel perbedaan[15] 10 Perintah Allah dalam versi Agama Yahudi, Gereja Orthodox, Gereja Katolik Roma dan Gereja Lutheran – Reformasi – Gereja Anglikan dan denominasi Kristen lainnya:

dekalog

Ritual Gereja Protestan

  • Sakramen

            Sakramen berasal dari bahasa Yunani (Mysterion) yang berarti “rahasia”. Berasal juga dari bahasa Latin (Sacramentum) yang berarti “hal yang kudus”, kata “Sacramentum” juga bisa digunakan atau diartikan sebagai sebuah sumpah seorang militer. Sakramen sangat berkaitan erat dengan kata “tanda” dan “materai”. Sakramen diartikan sebagai tanda yang kelihatan (visibilium) dari anugerah Allah.

             “ide” sakramen berawal dari seorang teolog dan Uskup Paris, Petrus Lombardus. Petrus Lombardus merumuskan 7 sakramen dalam buku IV Sentence[16] . selanjutnya, “ide” Petrus Lombardus dibahas pada Konsili Trente dan akhirnya disahkan oleh Doktor Gereja, Thomas Aquinas pada Konsili Florence. Perbedaan pandangan mengenai sakramen juga terjadi dalam Gereja Katolik, Lutheran dan Calvinisme.  Perbedaan itu timbul karena Martin Luther dan Jean Calvin memandang bahwa sakramen haruslah ditetapkan dan diperintahkan Kristus sendiri dan sakramen yang ditetapkan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus hanyalah Pembaptisan (berdasar Mat. 28:18-20) dan Perjamuan Kudus (Mat. 26:26-29, I Kor 11:23-32 [1 Yoh 5:7,8; Yoh3:5; 6:54,55]). Perbedaan sakramen-sakramen dalam berbagai Gereja disajikan dalam tabel berikut ini:

  Katolik Roma Orthodox Anglikan Lutheran Calvinis
1

Pembaptisan

Permandian

Pembaptisan

Pembaptisan Pembaptisan
2 Penguatan  (Krisma) Pengurapan Minyak Konfirmasi
3 Ekaristi[17] Perjamuan Kudus (Evkaristia) Perjamuan Tuhan Perjamuan Kudus[18] Perjamuan Kudus[19]
4 Rekonsiliasi (Pengakuan dosa) Pengakuan Dosa Penebusan Dosa (penance)
5 Pengurapan orang sakit Perminyakan bagi Kesembuhan Perminyakan sebelum meninggal (extreme unction)
6 Imamat Pentahbisan Ordinasi
7 Pernikahan Pernikahan Kudus

Pernikahan

Simbol dalam Gereja Protestan (Gereja GKI)

Pakaian liturgis Pendeta

Seorang pendepakaian liturgis.PNGta dalam Gereja Protestan menggunakan toga (geneva gown), baju slip collar dan stola. Alasan para pendeta menggunakan toga dari segi historis adalah karena Jean Calvin, penggagas gerekan Protestan Calvinis adalah seorang hakim. Alasan historis lainnya ketika Martin Luther memaku 95 Dalilnya di Gereja Kastil, Wittenberg Luther menggunakan toga sebagai simbol orang yang berpendidikan. Stola (selendang) yang digunakan para pendeta juga melambangkan kuasa pengajaran dan tugas pemberitaan firman Tuhan.

  • Lambang pada Stola Pendeta GKI

Stola pada Pendestola.PNGta GKI terdiri dari tiga motif, pertama motif tangan dengan ibu jari; telunjuk dan jari tengah yang ‘berdiri’ motif ini melambangkan kekuasaan dari Allah Bapa. Kedua motif salib yang melambangkan Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib, ketiga motif lidah-lidah api yang melambangkan Roh Kudus (Alkitab menggambarkan Roh Kudus yang turun dalam wujud lidah-lidah api pada hari Pentakosta). Ketiga motif tersebut disusun menjadi satu dan melambangkan Trinitas.

  • Alpha Omega dan Monogram chi-rho

Hasil gambar untuk MONOGRAM CHI RHOAlpha dan omega adalah huruf-huruf pertama dan terakhir dalam alfabet Yunani yang merupakan sebutan bagi Yesus Kristus atau Allah, Yesus sendiri menyatakan diri-Nya adalah Alfa Omega (Wahyu 22:13).

Chi-Rho adalah salah satu bentuk tertua “Kristogram” (aksara yang melambangkan Yesus Kristus) dan digunakan oleh sejumlah penulis Kristen. Lambang ini dibentuk dari gabungan dua huruf besar Yunani “Chi” dan “Rho” (ΧΡ) yang merupakan dua huruf pertama dari kata Yunani “ΧΡΙΣΤΟΣ” (Kristus).

  • Ichtus

Hasil gambar untuk ichtusIcthus dalam Bahasa Yunani berarti ikan. Kata ‘ikan’ dalam Bahasa Yunani (ICHTHUS) digunakan sebagai singkatan untuk kata Iesous CHristos, Theou Uios, Soter yang berarti Yesus Kristus, Putra Allah, Sang Penyelamat. Huruf-huruf pertama frasa ini dalam bahasa Yunaninya adalah IXΘYΣ (ichthus).

  • Roti dan anggur dalam Perjamuan KudusHasil gambar untuk communion

Sesuai dengan doktrin Konsubstantiasi, roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus di Gereja Protestan hanya sebagai simbol Tubuh dan Darah Kristus.

 

 

Jacko Ryan

2016

_________________

 

ENDNOTE:

[1] Jumlah denominasi  Gereja  Protestan di indonesia diambil dan dihitung dari jumlah Gereja Protestan yang tergabung dalam Persatuan Gereja Indonesia (PGI). Data tersebut dapat dilihat di http://forumkristen.com/index.php?topic=39898.0

[2] GKI sebagai Gereja yang beraliran Calvinisme, pernyataan ini dikutip langsung dari artikel di web GKI Residen Sudirman, Surabaya. Pembahasan selanjutnya dapat dilihat di http://www.suplemengki.com/mengenal-ajaran-calvinis/

[3] Dr. Nico Syukur Dister mengungkapkan istilah ‘Gereja yang Ilahi sekaligus Insani’ dalam 2004. Seri Buku Kedua Pustaka Teologi, Teologi Sistematika. Jakarta : Kanisius

[4] Selanjutnya mengenai misi penginjilan di tanah batak yang dilakukan Ludwig Ingwer Nommensen dapat dibaca dalam karya: Pdt. Prof. Dr. Jan Sihar Aritonang. Sejarah pendidikan Kristen di Tanah Batak: suatu telaah historis-teologis atas perjumpaan orang Batak dengan zending (khususnya RMG) di bidang pendidikan, 1861-1940. BPK Gunung Mulia.

[5] Pernyataan HKBP sebagai organisasi Gereja terbesar di Indonesia didasari dari fakta dan keterangan yang ditulis pada laman wikipedia indonesia yang dilihat pada 03 Agustus 2016, selanjutnya dapat dilihat dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Huria_Kristen_Batak_Protestan (terdapat pada alenia pertama)

[6] Menurut sejarah, Martin Luther awalnya hanya memberi “empat Sola” yakni: Sola Fide, Sola Gratia, Sola Sciptura, Soli Deo Gloria.  Perkembangan terjadi dan dilakukan oleh Theolog terkenal yakni Karl Barth yang menambahkan “Solus Christus” menjadi “lima sola”. Selanjutnya, Anglican Biblical Scholars  menambah “dua sola” lagi, yakni Sola Ecclesia dan Sola Caritas.

[7] tambahan pertama pada The Five Solae of the Protestant Reformation yang ditambahkan oleh Anglican Biblical Scholars.

[8] tambahan kedua pada The Five Solae of the Protestant Reformation yang ditambahkan oleh Anglican Biblical Scholars.

[9] Dikutip dari terj. Baker Books. 1979. Lima Pokok Ajaran Calvin Dalam Terang Firman Allah. Grand Rapids, Ml : Baker Book House Company. Dokumen dapat dilihat dalam link berikut http://www.oocities.org/thisisreformedfaith/artikel/tulip.pdf

[10] Predestinasi sendiri merupakan sebuah doktrin yang menyatakan bahwa segala sesuatu di dunia ini telah dirancang dan ditentukan Allah, termasuk nasib dan takdir setiap manusia. John Calvin, Martin Luther dan Gereja Katolik memiliki pandangan yang berbeda mengenai Predestinasi. Pertama, John Calvin menggunakan istilah “Predestinasi Ganda (Predestinasi Keselamatan dan Predestinasi Reprobasi)” dimana ada manusia yang mendapat keselamatan dan ada manusia yang sudah ditentukan nasibnya oleh Allah untuk hukuman abadi dan kebinasaan akibat dosa asal. Kedua, Martin Luther setuju akan pendapat John Calvin mengenai “Predestinasi Keselamatan” tetapi Luther tak setuju dengan pendapat Calvin tentang “Predestinasi Reprobasi”, Luther berpendapat bahwa hukuman kekal dari Allah diberikan ke beberapa manusia karena akibat dosa –dosa fasik, penolakan pengampunan dosa dan ketidakpercayaan bukan karena Allah yang menakdirkan manusia. Ketiga, Gereja Katolik (dalam hal ini pendapat dari St. Agustinus Hippo, doktor dan bapa Gereja) mengungkapan istilah “On Grace and Free Will” dimana Allah telah mengungkapan diri-Nya dan memberikan keselamatan untuk umat pilihan-Nya dan selanjutnya manusia diberikan kehendak bebas (freewill) untuk memilih mau menaati semua ajaran-Nya atau tidak.

[11] Isi dari Katekismus Heidelberg dapat dilihat dalam http://reformed.sabda.org/katekismus_heidelberg_1563

[12] Isi dari Katekismus Kecil dan Katekismus Besar Martin Luther dapat dilihat di https://jenmiramangngi.files.wordpress.com/2012/11/099-katekismus-besar-martin-luther-by-lutheran-literature-www-ebookkristiani-marselloginting-com.pdf

[13] Isi dari 95 Dalil Martin Luther dapat dilihat di http://www.sarapanpagi.org/martin-luther-s-95-theses-95-dalil-luther-vt1174.html

[14] Penulis juga sempat menyinggung hal ini pada bab pengantar yang terdapat pada halaman 1 pada paper ini.

[15] Tabel dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sepuluh_Perintah_Allah

[16] Berdasarkan tulisan mengenai Petrus Lombardus dalam laman wikipedia, terdapat pada link https://id.wikipedia.org/wiki/Petrus_Lombardus

[17] Ekaristi dalam Gereja Katolik menjadi puncak dalam kehidupan Gereja. Dalam Ekaristi, (khususnya dalam Doa Syukur Agung) ada dua bagian penting, pertama yakni Konsekrasi.  Konsekrasi adalah kata-kata yang diucapkan oleh selebran ekaristi, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagimu…. “ dan “Inilah piala darah-Ku. …”. kedua yakni Transubstansiasi. Transubstansiasi (atau disebut perubahan hakikat) adalah perubahan subtansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang nyata. Maka, Kehadiran Kristus secara nyata dalam rupa Ekaristi dimulai sejak saat konsekrasi.

[18] Perjamuan Kudus dalam Gereja Protestan (Lutheran maupun Calvinis) dipandang sebagai tanda dan sarana peringatan akan Kristus terhadap segala penderitaan, kematian serta kebangkitan-Nya. Secara gamblang, Luther menolak doktrin Transubstansiasi. Luther mengungkapkan istilah Konsubstansiasi, dimana roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus tidak mengalami perubahan substansi, sehingga roti dan anggur tetaplah menjadi roti dan anggur dan dipandang sebagai tanda tubuh dan darah Kristus. Hal ini bertolak dengan doktrin Gereja Katolik tentang Transubstansiasi yang menganggap bahwa roti dan anggur dalam Ekaristi berubah menjadi tubuh dan darah Kristus yang nyata.

[19] Beberapa GKI dan GKJ (seperti GKI Pondok Indah) sudah menerapkan Perjamuan Kudus yang Paedocommunion. Paedocommunion adalah perjamuan kudus yang melibatkan anak-anak dan bayi (paedo). Jauh sebelumnya, Gereja Purba menggunakan doktrin Paedocommunion dalam Ekaristi, namun pada Konsili Lateran IV (1215) Gereja Katolik secara sepakat mengubah doktrin Paedocommunion menjadi doktrin Transubtansiasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s